Tak Tahu Malu, Tak Mau Maju! - Berbagi Optimis

Terbaru

Search Bar

Rabu, 08 Februari 2017

Tak Tahu Malu, Tak Mau Maju!


BerbagiOptimis - Kaki yang melangkah, kendaraan yang melaju, angin yang bertiup, semuanya memiliki kecepatan. Kecepatan membuat kaki terlihat lebih lincah, kendaraan lebih gagah, dan angin lebih menggugah. Kecepatan yang dimiliki kaki kita bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan, jika kaki itu tak pernah berhenti untuk sekadar menyapa orang yang dilaluinya. Kecepatan kendaraan yang kita kendarai tidaklah berarti apa-apa jika ia terus melaju tanpa berhenti sejenak melihat keindahan yang dilewatinya. Pun dengan angin, kecepatan yang dibawanya bukanlah sesuatu yang menyenangkan, jika ia berhembus dengan sangat cepat tanpa memedulikan apa-apa yang disapanya. Maka, kaki yang berjalan, kendaraan yang melaju, dan angin yang berhembus, semuanya membutuhkan ‘jeda’, membutuhkan ‘rem’. 

Begitu pula manusia, membutuhkan kekuatan yang membuatnya mampu menahan diri, mampu mengerem diri supaya ia tidak terlalu cepat mengambil keputusan, tidak terburu-buru dalam menentukan, dan tidak menyesal setelah melakukan sesuatu karena kehendak sesaat. Kita harus bisa mengendalikan, bukan dikendalikan.
Pisau itu tergantung pada siapa yang memegangnya

Saat ini dalam hidup, kita memiliki sesuatu yang harus kita kendalikan. Hal pertama yang harus dikendalikan manusia, bukanlah orang yang ada di dekatnya, bukan orang tuanya, bukan gurunya, saudaranya, bukan hartanya, bukan lingkungannya, dan bukan pula pekerjaannya. Terlepas dari apapun yang ada di luar diri kita, itulah yang harus kita kendalikan terlebih dahulu; diri kita sendiri. 

Salah satu tombol kendali dalam diri manusia adalah rasa malu. Setiap orang di dunia ini ditakdirkan memiliki rasa malu, hanya saja kadarnya yang berbeda, serta pengaplikasiannya pun berbeda-beda. Mengapa kita harus malu? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan ini, salah satu jawabannya, karena malu adalah rem dalam diri kita. Malulah yang akan membantu kita mengurangi kecepatan kita, malulah yang akan membantu kita mengevaluasi diri kita, malulah yang membuat kita berpikir berulang kali untuk membuat suatu keputusan. Malu pula yang bisa menambah kecepatan kita, meng-upgrade diri kita, serta mengefektifkan pilihan-pilihan kita. 

Ada orang yang karena rasa malunya, ia menjadi seorang pecundang, pengecut, minder, tidak percaya diri, lantas kemudian menarik diri dari lingkungan dan tidak berkembang sama sekali. Misal, ada seseorang yang memiliki potensi dalam bidang bisnis, memiliki kemampuan analisis pasar yang baik, punya modal yang besar, namun ia merasa malu untuk memulai bisnisnya, karena bisnis yang ingin ia bangun adalah bisnis yang sedang menjamur di kotanya. Ia malu untuk bersaing, ia malu untuk mulai berkomunikasi dengan pebisnis lainnya, dan malu untuk meminta bantuan orang lain. Akhirnya, ia tidak pernah memulai bisnisnya karen ia ditaklukan oleh rasa malunya.

Ada pula orang, yang karena rasa malunya, ia menjadi orang yang tidak pernah berhenti bermimpi, tak lelah untuk berjuang, dan tiada henti menghasilkan karya. Ada orang yang merasa malu pada orangtuanya jika nilai yang ia peroleh di bangku kuliah hanya nilai yang biasa-biasa saja, sehingga ia memutuskan untuk berupaya mendpatkan nilai terbaik. Ada orang yang malu pada kawannya, jika ia tidak membantu saat kawannya membutuhkan bantuan, sehingga ia menjadi orang yang setia kawan serta siap siaga memberi pertolongan. Ada orang yang malu pada Tuhannya jika ia tidak menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, maka ia menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas kehidupan dan berupaya mendekatkan diri pada-Nya.

Malu itu pun ibarat pisau. Maka asahlah ia agar semakin tajam. 

Sehingga, ia semakin peka. Sehingga membantu anda menyadari kapan kau harus menggunakannya sebagai rem atau sebagai bahan bakar. Menjadi rem yang akan menahan anda dari sesuatu yang salah, dan menjadi bahan bakar yang memperkuat diri anda melakukan sesuatu yang benar. Jangan sampai kita menggunakannya secara terbalik, malu mengerem kita dari berbuat baik, dan menambah tenga kita untuk berbuat yang tidak baik.

So... Sekarang terserah anda, mau menjadikan rasa malu anda sebagai ‘rem’ atau ‘bahan bakar’, yang terpenting jadikan itu sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk diri anda sendiri, dan tentu untuk setiap hal yang ada di sekeliling anda.
"Malulah, Jika Malumu hanya membuatmu malu!"


(Dini Restiani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar