Ngapain Keluar dari Zona Nyaman? - Berbagi Optimis

Terbaru

Search Bar

Rabu, 04 Januari 2017

Ngapain Keluar dari Zona Nyaman?

Berbagi Optimis - Berapa sering kita mendengar nasehat ini 'Keluarlah dari zona nyaman!'? Biasanya mantra-mantra tersebut dirapalkan oleh motivator-motivator dalam rangka mewariskan semangat pada pendengarnya. Kalian boleh setuju, tapi maaf, izinkan saya untuk tidak setuju dalam hal ini.

Ngapain keluar dari zona nyaman? Mau melakukan segala sesuatu dalam tekanan? Duh.

Begini, keluar dari zona nyaman sama saja kita membiarkan waktu memangsa pikiran kita. Segala sesuatu yang kita lakukan serba dalam himpitan. Akhirnya kita stress, pekerjaan gak selesai, apalagi sampai ke tujuan hidup.

Jangan menggadaikan kenyamanan hati dalam melakukan sesuatu, karena suluh pemantik bagi tangan, kaki, dan anggota motorik lain adalah organ itu. Kalau hatinya senang pada suatu pekerjaan, berjayalah seluruh badan.

Terus bagaimana?

Zona Nyaman itu Jangan Dikhianati, tapi ...


Jangan keluar dari zona nyaman, tapi perlebarlah zona nyaman itu!

Ya! Perlebar! Bukan keluar.

Begini, jangan paksakan diri kita masuk ke halaman rumah tetangga, bila halaman sendiri belum pernah dinikmati. Sebab sememangnya apa yang belum kita raih akan terasa lebih menyamankan, tetapi setelah dicicipi ... tidak sama sekali.

Misalnya, kita itu nyaman memasak, lantas kita melihat orang lain kok ya jadi engineer itu lebih asik, uangnya lebih banyak. Terus kita memaksakan diri masuk kuliah jurusan teknik. Ternyata, setelah dijalani, anggapan 'lebih asik' itu menguap entah ke mana. Setiap tugas dari dosen dijalani dengan terpaksa, stress, tertekan, dan akhirnya kita gak kuat dan keluar kuliah.

Coba kalau begini, kita itu nyaman memasak. Karena merasa nyaman, kita mulai berpikir besar (bervisi). Kira-kira ... kenyamanan itu bisa berubah raksasa atau tidak? Bisa.

Kenyamanan itu akan membawa kita menjadi seseorang yang membuka usaha kuliner kecil-kecilan di rumah, lalu selang beberapa waktu membuka rumah makan yang agak lebih besar dengan menu yang lebih banyak, kemudian selang beberapa waktu lagi menjadi restoran. Kita lantas dikenal sebagai chef handal, diminta untuk mengadakan workshop memasak. Teruji. Kemudian diminta membuat buku resep. Laku.


Enak kalau nyaman. Semua hal kecil dapat menjadi raksasa tanpa mengorbankan hati. Mendaki gunung memang terjal, tetapi pemandangannya indah. Menjadi sukses memang susah, tapi tidak mesti mengorbankan rasa nyaman.

Itu pulalah yang harus kita pertimbangkan ketika menentukan visi. Senyaman apa diri kita pada visi yang direncanakan, seperti itulah percepatan kita meraihnya.

Maka, ketimbang keluar dari zona nyaman, kemudian stress; mending bekerja keras dalam zona nyaman, kemudian juara tanpa harus menikam hati sendiri.

Sebab nyaman tidak selalu berarti bersantai-santai; tetapi nyaman selalu berarti ... membara dalam tekad, muda dalam semangat, jujur dalam harapan, dan ... bahagia dalam perjuangan.

(Muhamad Mulkan Fauzi/Berbagi Optimis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar